Jakarta - Pemerintah berencana tetap mengimpor beras sebesar 300.000 ton jika stok beras di akhir tahun hanya mencapai 1,2 juta ton. Impor tersebut kemungkinan berasal dari negara Vietnam dan Thailand.
Demikian disampaikan Direktur Utama Perum Bulog Soetarto Alimoeso dalam konferensi persnya di Kantor Pusat Perum Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (08/10/2010).
"Kalau impor sekarang ini sekitar 300.000 ton, nah mungkin akan dilakukan karena menurut perhitungan stok beras di akhir 2010 mencapai 1,2 juta ton," ujarnya.
Ia memaparkan, beras impor bisa berasal dari Vietnam dan Thailand. "Dua negara tersebut sedang dilakukan penjajakan dan hampir pada tahap penyelesaian," tuturnya.
Sutarto mengatakan, Indonesia dan Vietnam serta Thailand sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) sehingga payung hukum impor bisa dilaksanakan khusus untuk pengadaan beras bagi Indonesia.
"MoU kan sudah ada jadi sudah ada payung hukumnya, MoU itu dengan Thailand masih sampai 2011 dan dengan Vietnam sampai 2012," ungkapnya.
Tetapi Sutarto enggan memberikan komposisi besaran impor beras oleh kedua negara tersebut. “Namun mengenai jumlahnya, berapa besar impornya nanti akan diumumkan minggu depan oleh Menteri Perdagangan,” jelasnya.
Lebih lanjut Sutarto mengatakan, keputusan pemerintah untuk melakukan impor beras diyakini tidak menganggu petani di Indonesia. “Walaupun impor dengan jumlah berapapun, tetapi Bulog akan tetap menyerap produksi petani,” tukasnya
Eliston Fransiskus Nadeak
"Sahabat bukanlah matematika yang dapat dihitung nilainya, Ekonomi yang mengharapkan banyak materi, Pancasila yang dituntut oleh undang-undang, tetapi Sahabat adalah Sejarah yang dapat dikenang sepanjang masa"
Jumat, 08 Oktober 2010
Kekayaan Penduduk Indonesia Melonjak 5 Kali Lipat
Zurich - Kekayaan penduduk di India dan Indonesia mencatat pertumbuhan terbesar di dunia. Kekayaan di Indonesia tercatat naik hingga 5 kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 1,8 triliun atau sekitar Rp 16.500 triliun.
Pertumbuhan kekayaan Indonesia itu lebih cepat ketimbang India yang 'hanya' mencetak kenaikan tiga kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 3,5 triliun.
Dengan tren tersebut, maka pada tahun 2015 diperkirakan kekayaan penduduk Indonesia bisa melonjak lagi menjadi US$ 3 triliun, sementara India naik hampir 2 kali lipat menjadi US$ 6,4 triliun.
Demikian laporan Global Wealth Report, Credit Suisse Research Institute yang dirilis di Zurich, Jumat (8/10/2010). Laporan ini didasarkan atas data yang dikumpulkan pada medio 2010 di lebih dari 200 negara di dunia.
Kekayaan yang dimaksud adalah nilai dari aset-aset finansial dan non-finansial (terutama real estate), tanpa utang rumah tangga. Data yang dipresentasikan adalah didasarkan pada data terbaik yang ada dari aset rumah tangga dan utang, diupdate dan dilakukan estimasi ketika diperlukan.
Proyeksi untuk 2015 dibuat Credit Suisse Research Institute daan didasarkan pada regresi korelasi antara pertumbuhan PDB, kekayaan dan level permulaan kekayaan per orang dewasa dikombinasikan dengan proyeksi PDB IMF.
Laporan itu menyebutkan, total kekayaan global 4,4 miliar penduduk dewasa dunia telah melonjak hingga 72% menjadi US$ 195 triliun dalam 1 dekade. Didorong oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi, nilai kekayaan itu diprediksi akan melonjak 61% menjadi US$ 315 triliun pada 2015.
China kini tercatat sebagai negara terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan mencapai US$ 16,5 triliun, di bawah AS (US$ 54,6 triliun) dan Jepang (US$ 21 triliun).
Ini artinya AS menguasai 27% dari kekayaan dunia yang mencapai US$ 195 triliun, Jepang berada di urutan kedua dengan menguasai 11% dan China di posisi ketiga sebesar 8%. Sementara Prancis, Italia, Jerman dan Inggris berada di tempat keempat dengan kekayaan sebesar 6%.
Namun Credit Suisse memperkirakan jika sejarah pertumbuhan ekonomi China terus berlanjut, maka nilai kekayaan penduduk China bisa melonjak 111% pada 2015, dan bercokol pada posisi kedua sehingga menggusur Jepang.
Laporan ini juga menunjukkan jumlah miliuner di kawasan Asia Pasifik lebih banyak ketimbang di Eropa. Dari total 1.000 miliuner di dunia, 500 berada di Amerika Utara, 245 di Asia Pasifik dan 230 ada di Eropa.
"Laporan ini mengkonfirmasi bahwa negara-negara Asia Pasifik, yang sekarang menguasai konsumen kelas menengah dunia telah mendorong kekayaan dunia," jelas Osama Abbasi, chief executive Officer Asia Pasifik Credit Suisse.
Pertumbuhan kekayaan Indonesia itu lebih cepat ketimbang India yang 'hanya' mencetak kenaikan tiga kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 3,5 triliun.
Dengan tren tersebut, maka pada tahun 2015 diperkirakan kekayaan penduduk Indonesia bisa melonjak lagi menjadi US$ 3 triliun, sementara India naik hampir 2 kali lipat menjadi US$ 6,4 triliun.
Demikian laporan Global Wealth Report, Credit Suisse Research Institute yang dirilis di Zurich, Jumat (8/10/2010). Laporan ini didasarkan atas data yang dikumpulkan pada medio 2010 di lebih dari 200 negara di dunia.
Kekayaan yang dimaksud adalah nilai dari aset-aset finansial dan non-finansial (terutama real estate), tanpa utang rumah tangga. Data yang dipresentasikan adalah didasarkan pada data terbaik yang ada dari aset rumah tangga dan utang, diupdate dan dilakukan estimasi ketika diperlukan.
Proyeksi untuk 2015 dibuat Credit Suisse Research Institute daan didasarkan pada regresi korelasi antara pertumbuhan PDB, kekayaan dan level permulaan kekayaan per orang dewasa dikombinasikan dengan proyeksi PDB IMF.
Laporan itu menyebutkan, total kekayaan global 4,4 miliar penduduk dewasa dunia telah melonjak hingga 72% menjadi US$ 195 triliun dalam 1 dekade. Didorong oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi, nilai kekayaan itu diprediksi akan melonjak 61% menjadi US$ 315 triliun pada 2015.
China kini tercatat sebagai negara terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan mencapai US$ 16,5 triliun, di bawah AS (US$ 54,6 triliun) dan Jepang (US$ 21 triliun).
Ini artinya AS menguasai 27% dari kekayaan dunia yang mencapai US$ 195 triliun, Jepang berada di urutan kedua dengan menguasai 11% dan China di posisi ketiga sebesar 8%. Sementara Prancis, Italia, Jerman dan Inggris berada di tempat keempat dengan kekayaan sebesar 6%.
Namun Credit Suisse memperkirakan jika sejarah pertumbuhan ekonomi China terus berlanjut, maka nilai kekayaan penduduk China bisa melonjak 111% pada 2015, dan bercokol pada posisi kedua sehingga menggusur Jepang.
Laporan ini juga menunjukkan jumlah miliuner di kawasan Asia Pasifik lebih banyak ketimbang di Eropa. Dari total 1.000 miliuner di dunia, 500 berada di Amerika Utara, 245 di Asia Pasifik dan 230 ada di Eropa.
"Laporan ini mengkonfirmasi bahwa negara-negara Asia Pasifik, yang sekarang menguasai konsumen kelas menengah dunia telah mendorong kekayaan dunia," jelas Osama Abbasi, chief executive Officer Asia Pasifik Credit Suisse.
Megawati Nilai Penanganan Bencana oleh Pemerintah Lambat
Jakarta - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menilai penanganan bencana oleh pemerintah saat ini sangat lambat. Luas wilayah Indonesia yang sedemikian besar tidak bisa menjadi alasan keterlamabatan penanganan bencana.
"Penanganan bencana oleh pemerintah sekarang sangat lambat. Memang sulit, negara kita sedemikan besar, jangkauan secara nasional kita tahu. Itu sangat urgent," kata Megawati dalam jumpa pers usai memimpin rapat pleno FPDIP di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/10/2010).
Hal itu dikatakan Megawati menanggapi pertanyaan wartawan tentang penanganan pemerintah terhadap bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat.
Megawati mengatakan, kebutuhan pokok bagi para korban bencana seharusnya sudah tiba di lokasi satu hari setelah bencana terjadi. "Tempat yang paling jauh pun seharusnya menjadi perhitungan kita," kata Megawati.
Megawati mengatakan, saat ini pemerintah perlu memberikan mind-set perubahan iklim kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa selalu waspada terhadap bencana.
"Pemerintah harus sudah bisa membuat gebrakan pengetahuan kepada masyarakat kita, bahwa ini akibat perubahan iklim, yang kita liat sampai hari ini kita masih mengalami musim hujan. Akibat ketinggian air laut itulah yang menyebabkan daerah-daerah yang sebetulnya tidak terkena banjir, longsor, jadi terkena," kata Megawati.
"Penanganan bencana oleh pemerintah sekarang sangat lambat. Memang sulit, negara kita sedemikan besar, jangkauan secara nasional kita tahu. Itu sangat urgent," kata Megawati dalam jumpa pers usai memimpin rapat pleno FPDIP di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/10/2010).
Hal itu dikatakan Megawati menanggapi pertanyaan wartawan tentang penanganan pemerintah terhadap bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat.
Megawati mengatakan, kebutuhan pokok bagi para korban bencana seharusnya sudah tiba di lokasi satu hari setelah bencana terjadi. "Tempat yang paling jauh pun seharusnya menjadi perhitungan kita," kata Megawati.
Megawati mengatakan, saat ini pemerintah perlu memberikan mind-set perubahan iklim kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa selalu waspada terhadap bencana.
"Pemerintah harus sudah bisa membuat gebrakan pengetahuan kepada masyarakat kita, bahwa ini akibat perubahan iklim, yang kita liat sampai hari ini kita masih mengalami musim hujan. Akibat ketinggian air laut itulah yang menyebabkan daerah-daerah yang sebetulnya tidak terkena banjir, longsor, jadi terkena," kata Megawati.
Jumat, 11 Juni 2010
Kentut & Sifat Manusia
¤ Tidak jujur : Orang yg abis kentut trus nyalahin orang lain >:O
¤ Bodoh : Orang yg nahan kentut sampe berjam-jam :$
¤ Bijaksana : Orang yg tau kapan harus kentut (y)
¤ Sengsara : Orang yg pengen kentut tapi gak bisa-bisa :&
¤ Misterius : Orang yg kalo kentut gak ketahuan orang lain /
¤ Pede : Orang yg selalu yakin kalo kentutnya gak bau (n)
¤ Sadis : Orang yg habis kentut dikibas2in ke temen sebelahnya.
¤ Strategis : Orang yg kalo kentut bisa mengalihkan perhatian orang lain shg lupa soal kentut tsb =-?
¤ Idiot : Orang yg habis kentut trus ambil napas dalem2 untuk ngisep lagi kentutnya *nerd*
¤ Irit : Orang yg kalo kentut dikeluarin dikit demi dikit 3-|
¤ Sombong : Orang yg seneng ngebau-in kentutnya sendiri B)
¤ Ramah : Orang yg dikentutin orang lain tapi tetap senyum
¤ Childish : Orang yg kalo kentut berendam di air biar bisa ngeliat blubug-blubugnya
¤ Jujur : Orang yg langsung mengaku begitu dia kentut ({})
¤ Jenius : Orang yg bisa mengidentifikasi ini bau kentutnya siapa :O
¤ Sial : Orang yg selalu dikentutin orang lain & bau.
¤ Kurang kontrol : Orang yg kalo kentut sampe keluar ampasnya X_X
¤ Kurang kerjaan : Orang yg senengnya ngebaca soal kentut ... Hahahaha
Rabu, 05 Mei 2010
Sri Mulyani Mundur, Program Ekonomi 5 Tahun Tetap
Mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) tidak akan mengganggu program-program ekonomi yang sudah disusun selama lima tahun ke depan.
"Bapak Wapres memastikan program-program ekonomi Indonesia sampai lima tahun tidak akan berubah hanya karena mundurnya Sri Mulyani," kata Jubir Wapres Yopie Hidayat, di Jakarta, Rabu (5/5/2010).
Dia menambahkan, bila pemerintah akan mencari penggantinya, yang kalibernya paling tidak bisa memberi jaminan adanya kebijakan yang pro-pertumbuhan, pro-poor, dan pro-job.
"Yang penting makroekonomi yang prudent dan fiskal yang berhati-hati. Ini policy culture. Kehati-hatian dalam memanaje fiskal. Dan juga secara mikro. Sebaiknya jangan alergi dari mana saja," tandasnya.
Menurutnya, Presiden dan Wapres akan sangat hati-hati dalam memilih orang sebagai pengganti Menkeu. "Masalah latar belakang nanti. Belum ada rencana pertemuan Pak Boed dengan Sri Mulyani. Hak prerogatif presiden untuk memilih.
BCA Bagi Dividen Rp110/Saham
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membagikan dividen final sebesar Rp2,68 triliun atau atau setara dengan 39 persen dari laba bersih 2009 perseroan yang mencapai Rp6,81 triliun. Dengan demikian, dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham adalah sebesar Rp110 per saham.
"Dividen yang dibagikan Rp2,68 triliun atau 39 persen dari laba bersih 2009," jelas manajemen perseroan dalam hasil keputusan RUPS Tahunan dalam siaran pers kepada okezone di Jakarta, Rabu (5/5/2010).
Sebelumnya perseroan telah membayarkan dividen interim sebesar Rp40 per saham pada 2 Desember 2009. Dengan demikian, perseroan akan membayarkan dividen final sebesar Rp70 per saham. Namun, jadwalnya belum ditentukan oleh perseroan.
Pemegang saham juga telah memberikan persetujuan atas laporan keuangan tahunan dan laporan dari komisaris untuk tahun buku 2009 termasuk pembebasan tanggung jawab kepada dewan komisaris dan dewan direksi. "Kami tidak mengagendakan perubahan komisaris dan direksi dalam RUPS ini
Seni dan Sepakbola
Duapuluh enam tahun lalu, tepatnya 7 Juli 1974 kita teringat pada Belanda dengan Total Football-nya. Saat itu sedang berlangsung final piala dunia antara Belanda versus Jerman. Siapa saja yang merasa waras saat itu pasti memilih menjagokan Belanda yang keluar sebagai juara daripada Jerman. Orang Jerman sendiri jika ditanya tanpa memedulikan rasa nasionalisme pastilah akan menjawab hal serupa.
Belanda di bawah otak Michel dan kaki Johan Cruyff adalah sebuah imaji tentang ritme permainan sepakbola. Bagaimana membuat sebuah pola taktik menyerang tanpa perlu khawatir pertahanan menjadi longgar, bahkan sebaliknya, macam apa rasanya memiliki maestro secerdas Cruyff, seperti apa jalannya menyajikan sebuah tontonan atraktif yang mampu membuat lawan dan penonton terkagum-kagum, adalah sederet pertanyaan yang telah tuntas dijawab oleh Belanda. Satu-satunya pertanyaan yang saat itu belum dijawab Belanda adalah: mampu memberikan (gelar) apa Total Football bagi sebuah bangsa bernama Belanda?
Malam itu sebuah jawaban dikeluarkan oleh sang maestro, ketika dua gol dari Paul Breitner dan Gerd Muller memangkas sebiji gol Johan Neskens: "Keindahan akan selalu dikenang, bahkan melebihi kemenangan."
Ya, Belanda kalah 2-1 dari Jerman dan dunia berkata "tidak adil!" Sepanjang turnamen, Belanda yang bermain luar biasa, pun ketika menghadapi Jerman, ternyata harus kalah oleh Jerman yang bermain sangat hati-hati dan cenderung tidak menikmati permainan.
Henk Spaan, pengamat sepakbola terkenal asal Belanda mengatakan bahwa apa yang dikatakan Cruyff setelah kekalahan tersebut adalah sebuah "rasionalisasi atas kekalahan". Selepas kekalahan itu banyak orang mulai menikmati sepakbola tidak melulu dengan menang atau kalah, tetapi lebih cenderung sebagai sebuah seni permainan yang mengutamakan skill ketimbang hasil. Dan sejak saat Cruyff mengeluarkan pernyataan yang sampai sekarang masih diyakininya itu, Belanda mulai menjejaki dunia sepakbola dengan sebuah doktrin: keindahan dan permainan menyerang.
Tetapi, tak banyak orang sependapat tentunya. Terlebih bila pertanyaan apakah "keindahan lebih suci ketimbang kemenangan" ditanyakan kepada para penganut pragmatisme sepakbola macam Fabio Capello atau Jose Mourinho, jawabannya sudah kadung tentu kita tahu: "Tidak!" Kita masih ingat bagaimana "pragmatikrasi" dalam sepakbola ini telah banyak membabat keindahan seni dalam sepakbola. Selain Jerman di Piala Dunia 1974, AC Milan pada Piala Champion 1994 dengan Capello juga melakukan hal yang sama. Milan, yang pada malam puncak Piala Champion saat itu bertemu "Dream Team" Barcelona, di atas kertas dan lewat prediksi seorang profesor bidang sepakbola sekalipun sudah divonis akan kalah, melumat habis Barcelona empat gol tanpa balas. Lalu yang paling teraktual adalah Internazionale Milan, yang pada Rabu 20 April 2009 kemarin sukses menghempaskan Barcelona, sang juara bertahan, dengan skor cukup meyakinkan 3-1.
Pada pertandingan itu Mourinho seakan menjelma menjadi Helenio Herrera, sang arsitek pencetus ide bombastis yang kita kenal dengan sebutan Catenaccio. Pertahanan yang begitu kekar dan tangguh, lini tengah yang padat dan barisan penyerang cerdik juga tangkas, menjadikan Inter malam itu seperti sebuah taifun yang menggulung habis sebuah ladang peternakan domba bernama Barcelona. Kekalahan pada pertandingan fase grup dari Bercelona sebelumnya seperti tak berbekas. Inter layak menang, terlepas dari kepemimpinan wasit yang ditenggarai sebagai biang keladi kekalahan Barcelona . Lalu ramai-ramai orang mengatakan bahwa malam itu adalah kemenangan "seni bertahan".
Sebenarnya apa yang "indah" dan layak dikatakan sebagai "seni"?
Saya ingat Stockhausen, seorang komponis Jerman terkenal, yang tak lama setelah tragedi WTC berujar: "Itulah karya seni terbesar untuk seluruh kosmos." Sejak mengeluarkan pernyataan tersebut ia pun dikecam, karena dianggap melecehkan perasaan keluarga korban dan rakyat Amerika Serikat. Salahkah Stockhausen, bila kita ingat bahwa pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp pernah mengikutsertakan sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di New York ? Sekali lagi, manakah yang bukan "seni" dan layak disebut "seni"?
Diakui atau tidak, ada semacam sebuah otoritas yang begitu punya kuasa dalam penentuan sebuah karya seni. Sebuah karya seni ditopang oleh beberapa hal berikut: institusi dan geografi yang "tepat" dan sebuah fatwa. Katakanlah sebuah kanvas polos berwarna putih yang diletakkan dalam sebuah galeri kesenian ternama yang dipenuhi oleh para mahasiswa jurusan seni, kritikus seni dan seorang kurator johari, yang kompak menyebut bahwa kanvas tersebut mempunyai potensi untuk menyentuh hati tentang "permenungan", "ketiadaan", atau sesuatu yang melambangkan "kesendirian".
Ini menunjukkan ada sebuah institusi di sana (mahasiswa seni, kritikus dan kurator). Ada posisi geografis yang tepat (galeri ternama) dan terdapat fatwa: bahwa kanvas kosong tersebut berpotensi menimbulkan sebuah kesan di hati tiap orang yang melihat. Dengan kata lain, selama sebuah otoritas membaptiskan sesuatu sebagai "seni", maka semua hal dapat dikeramatkan dan masuk dalam wacana kesenian. Begitu sajakah?
Dalam dasar-dasar logika, ada dua buah macam pembenaran yang dipakai untuk menakar persoalan-persoalan dilematis seperti di atas: pembenaran "ontologis" dan pembenaran "epistemologis". Dalam kasus karya seni tadi, pembenaran ontologisnya adalah: "Karena X ada di Tate Moderen, maka X adalah sebuah karya seni." Sedangkan pembenaran epistemologisnya adalah: " Karena X adalah sebuah karya seni, maka X ada di Tate Moderen."
Pembenaran ontologis menganggap bahwa segala macam benda yang dipajang di Tate Moderen adalah sebuah karya seni, sekalipun seonggok daging penuh ulat. Sebaliknya, pembenaran epistomologis masih menyediakan ruang dialog untuk mempersoalkan apakah X merupakan atau kayak disebut karya seni. Sebuah sikap keterbukaan, pertanyaan dan sikap kritis -- termasuk kepada diri sendiri -- memang menjadi semangat utama dalam pembenaran epistemologis. Ini yang tak terdapat sekaligus membedakan dalam pembenaran ontologis.
Sepertinya diperlukan sebuah ruang dialog seperti itulah ketika banyak orang cenderung menganggap Total Football adalah sebuah "seni" dalam permainan sepakbola, sedangkan pragmatisme sepakbola yang mengusung prinsip Catenaccio cenderung haram untuk masuk dalam kategori berkesenian di sepakbola. Ruang dialog seperti ini pula yang sekiranya diperlukan bila Anda ingin percaya bahwa kini saatnya sepakbola bertahan yang menjadi "seni" permainan dalam sepakbola. Terlepas Anda memerlukan ruang dialog itu atau tidak, anda tetap punya otoritas tersendiri untuk memilih.
Semudah dan sesulit itu saja, bukan?
==
* Penulis adalah pecinta sepakbola, mahasiswa, tinggal di Kelapa dua, Depok. Tulisan ini bersifat opini, tidak merupakan dan mencerminkan sikap redaksi.
Belanda di bawah otak Michel dan kaki Johan Cruyff adalah sebuah imaji tentang ritme permainan sepakbola. Bagaimana membuat sebuah pola taktik menyerang tanpa perlu khawatir pertahanan menjadi longgar, bahkan sebaliknya, macam apa rasanya memiliki maestro secerdas Cruyff, seperti apa jalannya menyajikan sebuah tontonan atraktif yang mampu membuat lawan dan penonton terkagum-kagum, adalah sederet pertanyaan yang telah tuntas dijawab oleh Belanda. Satu-satunya pertanyaan yang saat itu belum dijawab Belanda adalah: mampu memberikan (gelar) apa Total Football bagi sebuah bangsa bernama Belanda?
Malam itu sebuah jawaban dikeluarkan oleh sang maestro, ketika dua gol dari Paul Breitner dan Gerd Muller memangkas sebiji gol Johan Neskens: "Keindahan akan selalu dikenang, bahkan melebihi kemenangan."
Ya, Belanda kalah 2-1 dari Jerman dan dunia berkata "tidak adil!" Sepanjang turnamen, Belanda yang bermain luar biasa, pun ketika menghadapi Jerman, ternyata harus kalah oleh Jerman yang bermain sangat hati-hati dan cenderung tidak menikmati permainan.
Henk Spaan, pengamat sepakbola terkenal asal Belanda mengatakan bahwa apa yang dikatakan Cruyff setelah kekalahan tersebut adalah sebuah "rasionalisasi atas kekalahan". Selepas kekalahan itu banyak orang mulai menikmati sepakbola tidak melulu dengan menang atau kalah, tetapi lebih cenderung sebagai sebuah seni permainan yang mengutamakan skill ketimbang hasil. Dan sejak saat Cruyff mengeluarkan pernyataan yang sampai sekarang masih diyakininya itu, Belanda mulai menjejaki dunia sepakbola dengan sebuah doktrin: keindahan dan permainan menyerang.
Tetapi, tak banyak orang sependapat tentunya. Terlebih bila pertanyaan apakah "keindahan lebih suci ketimbang kemenangan" ditanyakan kepada para penganut pragmatisme sepakbola macam Fabio Capello atau Jose Mourinho, jawabannya sudah kadung tentu kita tahu: "Tidak!" Kita masih ingat bagaimana "pragmatikrasi" dalam sepakbola ini telah banyak membabat keindahan seni dalam sepakbola. Selain Jerman di Piala Dunia 1974, AC Milan pada Piala Champion 1994 dengan Capello juga melakukan hal yang sama. Milan, yang pada malam puncak Piala Champion saat itu bertemu "Dream Team" Barcelona, di atas kertas dan lewat prediksi seorang profesor bidang sepakbola sekalipun sudah divonis akan kalah, melumat habis Barcelona empat gol tanpa balas. Lalu yang paling teraktual adalah Internazionale Milan, yang pada Rabu 20 April 2009 kemarin sukses menghempaskan Barcelona, sang juara bertahan, dengan skor cukup meyakinkan 3-1.
Pada pertandingan itu Mourinho seakan menjelma menjadi Helenio Herrera, sang arsitek pencetus ide bombastis yang kita kenal dengan sebutan Catenaccio. Pertahanan yang begitu kekar dan tangguh, lini tengah yang padat dan barisan penyerang cerdik juga tangkas, menjadikan Inter malam itu seperti sebuah taifun yang menggulung habis sebuah ladang peternakan domba bernama Barcelona. Kekalahan pada pertandingan fase grup dari Bercelona sebelumnya seperti tak berbekas. Inter layak menang, terlepas dari kepemimpinan wasit yang ditenggarai sebagai biang keladi kekalahan Barcelona . Lalu ramai-ramai orang mengatakan bahwa malam itu adalah kemenangan "seni bertahan".
Sebenarnya apa yang "indah" dan layak dikatakan sebagai "seni"?
Saya ingat Stockhausen, seorang komponis Jerman terkenal, yang tak lama setelah tragedi WTC berujar: "Itulah karya seni terbesar untuk seluruh kosmos." Sejak mengeluarkan pernyataan tersebut ia pun dikecam, karena dianggap melecehkan perasaan keluarga korban dan rakyat Amerika Serikat. Salahkah Stockhausen, bila kita ingat bahwa pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp pernah mengikutsertakan sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di New York ? Sekali lagi, manakah yang bukan "seni" dan layak disebut "seni"?
Diakui atau tidak, ada semacam sebuah otoritas yang begitu punya kuasa dalam penentuan sebuah karya seni. Sebuah karya seni ditopang oleh beberapa hal berikut: institusi dan geografi yang "tepat" dan sebuah fatwa. Katakanlah sebuah kanvas polos berwarna putih yang diletakkan dalam sebuah galeri kesenian ternama yang dipenuhi oleh para mahasiswa jurusan seni, kritikus seni dan seorang kurator johari, yang kompak menyebut bahwa kanvas tersebut mempunyai potensi untuk menyentuh hati tentang "permenungan", "ketiadaan", atau sesuatu yang melambangkan "kesendirian".
Ini menunjukkan ada sebuah institusi di sana (mahasiswa seni, kritikus dan kurator). Ada posisi geografis yang tepat (galeri ternama) dan terdapat fatwa: bahwa kanvas kosong tersebut berpotensi menimbulkan sebuah kesan di hati tiap orang yang melihat. Dengan kata lain, selama sebuah otoritas membaptiskan sesuatu sebagai "seni", maka semua hal dapat dikeramatkan dan masuk dalam wacana kesenian. Begitu sajakah?
Dalam dasar-dasar logika, ada dua buah macam pembenaran yang dipakai untuk menakar persoalan-persoalan dilematis seperti di atas: pembenaran "ontologis" dan pembenaran "epistemologis". Dalam kasus karya seni tadi, pembenaran ontologisnya adalah: "Karena X ada di Tate Moderen, maka X adalah sebuah karya seni." Sedangkan pembenaran epistemologisnya adalah: " Karena X adalah sebuah karya seni, maka X ada di Tate Moderen."
Pembenaran ontologis menganggap bahwa segala macam benda yang dipajang di Tate Moderen adalah sebuah karya seni, sekalipun seonggok daging penuh ulat. Sebaliknya, pembenaran epistomologis masih menyediakan ruang dialog untuk mempersoalkan apakah X merupakan atau kayak disebut karya seni. Sebuah sikap keterbukaan, pertanyaan dan sikap kritis -- termasuk kepada diri sendiri -- memang menjadi semangat utama dalam pembenaran epistemologis. Ini yang tak terdapat sekaligus membedakan dalam pembenaran ontologis.
Sepertinya diperlukan sebuah ruang dialog seperti itulah ketika banyak orang cenderung menganggap Total Football adalah sebuah "seni" dalam permainan sepakbola, sedangkan pragmatisme sepakbola yang mengusung prinsip Catenaccio cenderung haram untuk masuk dalam kategori berkesenian di sepakbola. Ruang dialog seperti ini pula yang sekiranya diperlukan bila Anda ingin percaya bahwa kini saatnya sepakbola bertahan yang menjadi "seni" permainan dalam sepakbola. Terlepas Anda memerlukan ruang dialog itu atau tidak, anda tetap punya otoritas tersendiri untuk memilih.
Semudah dan sesulit itu saja, bukan?
==
* Penulis adalah pecinta sepakbola, mahasiswa, tinggal di Kelapa dua, Depok. Tulisan ini bersifat opini, tidak merupakan dan mencerminkan sikap redaksi.
Langganan:
Postingan (Atom)



