Eliston Fransiskus Nadeak

Eliston Fransiskus Nadeak
"Sahabat bukanlah matematika yang dapat dihitung nilainya, Ekonomi yang mengharapkan banyak materi, Pancasila yang dituntut oleh undang-undang, tetapi Sahabat adalah Sejarah yang dapat dikenang sepanjang masa"

Senin, 25 Oktober 2010

Kasih

Hal yg dilakukan dgn KASIH seharusnya tdk mengHarap apapun sbg balasan...

Sama spRti waktu Yesus menyelamatkan manusia,

walau sering x tergoda tUk kecewa..

tetapi KASIH akan selalu MENANG krn
pengampunannya,
keikhlasannya,
ketulusannya,
kemurahannya...

Kasih bkn bodoh
shg selalu bs mengampuni,
shg selalu memberi tnp harap menerima, tnp memprhtgkan apapun yg ia lakukan...

Tapi krn ia selalu mgharapkn yg trbaik,
dan selalu percaya yg trbaik.

MengasiHi bs mjd hal yg sulit atau mudah.
Trgantung siapa yg mjd landasannya..
Manusia atau Allah..

Slmt menGasiHi!!

Jumat, 08 Oktober 2010

Belanja Kementerian/ Lembaga Baru Capai 51% per 30 September

Jakarta - Hingga 30 September 2010, realisasi belanja Kementerian/Lembaga masih rendah yakni baru menginjak 51%. Setidaknya ada 3 kendala utama yang menyebabkan rendahnya realisasi belanja itu.

Kepala pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Askolani menyebutkan pada akhir triwulan III belanja K/L baru mencapai Rp 187,4 triliun atau sebesar 51% dari pagu anggaran dalam APBN-P 2010 Rp 366,1 triliun.

Secara nominal, lanjut Askolani, penyerapan belanja tersebut lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun 2009 yaitu Rp 177,6 triliun dan tahun 2008 yang sebesar Rp 152 triliun.

"Saat ini secara nominal lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Itu karena volumenya APBN memang lebih tinggi dibandingkan 2008-2009," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (8/10/2010).

Walaupun diakui, lanjut Askolani, secara persentase, penyerapan tersebut bisa dikatakan lebih rendah dibandingkan 2 tahun sebelumnya. Pasalnya, ada tambahan sebesar Rp 26 triliun dalam APBN-P 2010 yang belum bisa digunakan secara maksimal.

"Secara persentase lebih rendah, tahun ini 51%, tahun 2009 sudah 55-56%, tahun 2008 sebesar 52% untuk periode yang sama. Ini karena ada penambahan dalam pagu K/L, sampai Rp 26 triliun. Tambahan yang Rp 26 triliun ini memang belum bisa maksimal," ujarnya.

Askolani menyatakan pihaknya mengkaji kendala yang menyebabkan penyerapan tersebut belum optimal. Rupanya terdapat 3 kendala utama yang terkait dengan dalam tubuh masing-masing K/L, pengadaan barang dan jasa, serta adanya proses revisi anggaran yang diajukan tiap K/L.

"Jadi ada 3 masalah utama yaitu di K/L, penyediaan barang dan jasa, dan revisi ulang," ujarnya.

Dari sisi K/L, Askolani menyebutkan di masing-masing K/L masih mengahadapi hambatan seperti perubahan orgnisasi, penggantian pejabat, dan ketakutan memulai proses tender.

"Proses itu kan dibuat bisa lebih simpel dibanding sebelumnya. Padahal sudah ada ketentuan pejabat yang melakukan proses tender tidak perlu sertifikasi," jelasnya.

Masalah lain dalam K/L yang menghambat penyerapan anggarannya adalah dari sisi proses perencanaan.

"Memang tidak mudah dalam proses perencanaan ini sehingga ada K/L yang perencanaan kurang baik yang menyebabkan dia merevisi anggarannya," ujarnya.

Sedangkan kendala dari sisi pengadaan barang dan jasa, Askolani menyatakan banyak SDM yang belum memahami sepenuhnya kemudahan dari Keppres 80/2003 yang direvisi menjadi perpres 54/2010. Selain itu adanya banding bagi pihak yang kalah tender.

"Padahal bis skaligus, pejabat nonsertifikat bisa mengadakan barang dan jasa," jelasnya.

Askolani menyebutkan proses revisi anggaran yang menyebabkan anggaran beberapa K/L masih diberi bintang atau belum bisa dicairkan juga menjada kendala penyerapan anggaran di K/L tersebut.

"Kemudian, proses revisi. Kenapa ada yang dibintangi itu misalnya dokumennya kurang lengkap,komposisi ada yang menggunakan dana luar seperti pinjaman," ujarnya.

Dari ketiga kendala lain, Askolani juga menyebutkan ada kendala lain seperti cuaca yang diakui juga menghambat pelaksanaan kegiatan di beberapa daerah karen hujan dan longsor. Begitu pun dengan kendala pembebasan tanah yang menghambat pelaksanaan proyek-proyek pemerintah.

"Itu juga menghambat khususnya di PU," katanya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Askolani menyatakan pemerintah terutama pihak Kementerian Keuangan telah melakukan antisipasi dengan meminta K/L yang memiliki anggaran berbintang untuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang dibutuhkan secepatnya sehingga anggaran tersebut bisa dicairkan sebelum tutup tahun. Selain itu, pihak LKPP harus lebih menyosialisasikan mengenai Keppres 80/2003 yang sekarang sudah direvisi menjadi Perpres 54/2010.

Namun, Askolani yakin pemerintah dapat menyerap anggaran belanja tersebut sesuai dengan target karena berdasarkan tren tahunan penyerapan akan berjalan cepat pada akhir tahun atau masuk triwulan IV setiap tahunnya.

"Tetapi akan ada percepatan khususnya di triwulan IV sehingga realisasinya tidak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya," imbuhnya.

RI Siap Impor 300 Ribu Ton Beras dari Thailand dan Vietnam

Jakarta - Pemerintah berencana tetap mengimpor beras sebesar 300.000 ton jika stok beras di akhir tahun hanya mencapai 1,2 juta ton. Impor tersebut kemungkinan berasal dari negara Vietnam dan Thailand.

Demikian disampaikan Direktur Utama Perum Bulog Soetarto Alimoeso dalam konferensi persnya di Kantor Pusat Perum Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (08/10/2010).

"Kalau impor sekarang ini sekitar 300.000 ton, nah mungkin akan dilakukan karena menurut perhitungan stok beras di akhir 2010 mencapai 1,2 juta ton," ujarnya.

Ia memaparkan, beras impor bisa berasal dari Vietnam dan Thailand. "Dua negara tersebut sedang dilakukan penjajakan dan hampir pada tahap penyelesaian," tuturnya.

Sutarto mengatakan, Indonesia dan Vietnam serta Thailand sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) sehingga payung hukum impor bisa dilaksanakan khusus untuk pengadaan beras bagi Indonesia.

"MoU kan sudah ada jadi sudah ada payung hukumnya, MoU itu dengan Thailand masih sampai 2011 dan dengan Vietnam sampai 2012," ungkapnya.

Tetapi Sutarto enggan memberikan komposisi besaran impor beras oleh kedua negara tersebut. “Namun mengenai jumlahnya, berapa besar impornya nanti akan diumumkan minggu depan oleh Menteri Perdagangan,” jelasnya.

Lebih lanjut Sutarto mengatakan, keputusan pemerintah untuk melakukan impor beras diyakini tidak menganggu petani di Indonesia. “Walaupun impor dengan jumlah berapapun, tetapi Bulog akan tetap menyerap produksi petani,” tukasnya

Kekayaan Penduduk Indonesia Melonjak 5 Kali Lipat

Zurich - Kekayaan penduduk di India dan Indonesia mencatat pertumbuhan terbesar di dunia. Kekayaan di Indonesia tercatat naik hingga 5 kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 1,8 triliun atau sekitar Rp 16.500 triliun.
Pertumbuhan kekayaan Indonesia itu lebih cepat ketimbang India yang 'hanya' mencetak kenaikan tiga kali lipat dalam 1 dekade menjadi US$ 3,5 triliun.
Dengan tren tersebut, maka pada tahun 2015 diperkirakan kekayaan penduduk Indonesia bisa melonjak lagi menjadi US$ 3 triliun, sementara India naik hampir 2 kali lipat menjadi US$ 6,4 triliun.
Demikian laporan Global Wealth Report, Credit Suisse Research Institute yang dirilis di Zurich, Jumat (8/10/2010). Laporan ini didasarkan atas data yang dikumpulkan pada medio 2010 di lebih dari 200 negara di dunia.
Kekayaan yang dimaksud adalah nilai dari aset-aset finansial dan non-finansial (terutama real estate), tanpa utang rumah tangga. Data yang dipresentasikan adalah didasarkan pada data terbaik yang ada dari aset rumah tangga dan utang, diupdate dan dilakukan estimasi ketika diperlukan.
Proyeksi untuk 2015 dibuat Credit Suisse Research Institute daan didasarkan pada regresi korelasi antara pertumbuhan PDB, kekayaan dan level permulaan kekayaan per orang dewasa dikombinasikan dengan proyeksi PDB IMF.
Laporan itu menyebutkan, total kekayaan global 4,4 miliar penduduk dewasa dunia telah melonjak hingga 72% menjadi US$ 195 triliun dalam 1 dekade. Didorong oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi, nilai kekayaan itu diprediksi akan melonjak 61% menjadi US$ 315 triliun pada 2015.
China kini tercatat sebagai negara terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan mencapai US$ 16,5 triliun, di bawah AS (US$ 54,6 triliun) dan Jepang (US$ 21 triliun).
Ini artinya AS menguasai 27% dari kekayaan dunia yang mencapai US$ 195 triliun, Jepang berada di urutan kedua dengan menguasai 11% dan China di posisi ketiga sebesar 8%. Sementara Prancis, Italia, Jerman dan Inggris berada di tempat keempat dengan kekayaan sebesar 6%.
Namun Credit Suisse memperkirakan jika sejarah pertumbuhan ekonomi China terus berlanjut, maka nilai kekayaan penduduk China bisa melonjak 111% pada 2015, dan bercokol pada posisi kedua sehingga menggusur Jepang.
Laporan ini juga menunjukkan jumlah miliuner di kawasan Asia Pasifik lebih banyak ketimbang di Eropa. Dari total 1.000 miliuner di dunia, 500 berada di Amerika Utara, 245 di Asia Pasifik dan 230 ada di Eropa.
"Laporan ini mengkonfirmasi bahwa negara-negara Asia Pasifik, yang sekarang menguasai konsumen kelas menengah dunia telah mendorong kekayaan dunia," jelas Osama Abbasi, chief executive Officer Asia Pasifik Credit Suisse.

Megawati Nilai Penanganan Bencana oleh Pemerintah Lambat

Jakarta - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menilai penanganan bencana oleh pemerintah saat ini sangat lambat. Luas wilayah Indonesia yang sedemikian besar tidak bisa menjadi alasan keterlamabatan penanganan bencana.
"Penanganan bencana oleh pemerintah sekarang sangat lambat. Memang sulit, negara kita sedemikan besar, jangkauan secara nasional kita tahu. Itu sangat urgent," kata Megawati dalam jumpa pers usai memimpin rapat pleno FPDIP di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (8/10/2010).
Hal itu dikatakan Megawati menanggapi pertanyaan wartawan tentang penanganan pemerintah terhadap bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat.
Megawati mengatakan, kebutuhan pokok bagi para korban bencana seharusnya sudah tiba di lokasi satu hari setelah bencana terjadi. "Tempat yang paling jauh pun seharusnya menjadi perhitungan kita," kata Megawati.
Megawati mengatakan, saat ini pemerintah perlu memberikan mind-set perubahan iklim kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa selalu waspada terhadap bencana.
"Pemerintah harus sudah bisa membuat gebrakan pengetahuan kepada masyarakat kita, bahwa ini akibat perubahan iklim, yang kita liat sampai hari ini kita masih mengalami musim hujan. Akibat ketinggian air laut itulah yang menyebabkan daerah-daerah yang sebetulnya tidak terkena banjir, longsor, jadi terkena," kata Megawati.

Jumat, 11 Juni 2010

Kentut & Sifat Manusia

¤ Tidak jujur : Orang yg abis kentut trus nyalahin orang lain >:O
¤ Bodoh : Orang yg nahan kentut sampe berjam-jam :$
¤ Bijaksana : Orang yg tau kapan harus kentut (y)
¤ Sengsara : Orang yg pengen kentut tapi gak bisa-bisa :&
¤ Misterius : Orang yg kalo kentut gak ketahuan orang lain /
¤ Pede : Orang yg selalu yakin kalo kentutnya gak bau (n)
¤ Sadis : Orang yg habis kentut dikibas2in ke temen sebelahnya.
¤ Strategis : Orang yg kalo kentut bisa mengalihkan perhatian orang lain shg lupa soal kentut tsb =-?
¤ Idiot : Orang yg habis kentut trus ambil napas dalem2 untuk ngisep lagi kentutnya *nerd*
¤ Irit : Orang yg kalo kentut dikeluarin dikit demi dikit 3-|
¤ Sombong : Orang yg seneng ngebau-in kentutnya sendiri B)
¤ Ramah : Orang yg dikentutin orang lain tapi tetap senyum
¤ Childish : Orang yg kalo kentut berendam di air biar bisa ngeliat blubug-blubugnya
¤ Jujur : Orang yg langsung mengaku begitu dia kentut ({})
¤ Jenius : Orang yg bisa mengidentifikasi ini bau kentutnya siapa :O
¤ Sial : Orang yg selalu dikentutin orang lain & bau.
¤ Kurang kontrol : Orang yg kalo kentut sampe keluar ampasnya X_X
¤ Kurang kerjaan : Orang yg senengnya ngebaca soal kentut ... Hahahaha

Rabu, 05 Mei 2010

Sri Mulyani Mundur, Program Ekonomi 5 Tahun Tetap


Mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) tidak akan mengganggu program-program ekonomi yang sudah disusun selama lima tahun ke depan.

"Bapak Wapres memastikan program-program ekonomi Indonesia sampai lima tahun tidak akan berubah hanya karena mundurnya Sri Mulyani," kata Jubir Wapres Yopie Hidayat, di Jakarta, Rabu (5/5/2010).

Dia menambahkan, bila pemerintah akan mencari penggantinya, yang kalibernya paling tidak bisa memberi jaminan adanya kebijakan yang pro-pertumbuhan, pro-poor, dan pro-job.

"Yang penting makroekonomi yang prudent dan fiskal yang berhati-hati. Ini policy culture. Kehati-hatian dalam memanaje fiskal. Dan juga secara mikro. Sebaiknya jangan alergi dari mana saja," tandasnya.

Menurutnya, Presiden dan Wapres akan sangat hati-hati dalam memilih orang sebagai pengganti Menkeu. "Masalah latar belakang nanti. Belum ada rencana pertemuan Pak Boed dengan Sri Mulyani. Hak prerogatif presiden untuk memilih.